Monday, March 14, 2011

Bola Api Kemarahan

Bagi saya kemarahan itu seperti bola api yang membara di dalam tubuh ini. Pantas saja ya, Buddha berkata, kemarahan hanyalah membuat dirimu sendiri menderita! Bagai memegang batu bara panas yang akan kita lemparkan pada suatu object, tetapi sebelum kamu melemparnya, kamu hanya akan melukai tanganmu sendiri.

Kemarin baru saja saya merasakan bola api ini lagi, kali ini saya benar-benar melihat nya. Jujur, ketika bola itu pertama kali muncul saya tidak mengetahui nya, object saya lebih tertumpu pada orang yang membuat saya marah. Tapi setelah bola itu terasa semakin membesar, barulah saya sadar.. Lho ini saya marah ya? Dan seketika itu pula bola itu berhenti mengembang, seperti terdiam karena malu terpergok.

Dari hasil buka-buka blog orang, saya baru tahu kalau marah itu sebenarnya adalah salah satu respond "fight or flight" kita sebagai manusia, jadi memang tidak ada yang salah jika kemarahan itu muncul. Namun, kita harus ingat, apa yang penting adalah tindakan kita setelah amarah itu muncul. Apakah kita akan meneruskan amarah ini? Atau melepaskannya dan memaafkan object yang membuat kita marah?

Pagi ini saya menemukan satu artikel tentang "kemarahan" oleh Thich Nhat Hanh. Bagus!
Ada beberapa kalimat yang saya suka dari artikel ini:


Pada saat kamu menjadi marah, kamu cenderung percaya bahwa kesengsaraanmu telah disebabkan oleh orang lain.


Kamu menyalahkan dia atas semua penderitaanmu. Banyak orang lain, yang dihadapkan pada situasi yang sama, tidak akan menjadi marah seperti dirimu. Mereka mendengar kata-2 yang sama, mereka melihat situasi yang sama, namun mereka mampu tetap tenang dan tidak terbawa. Kenapa kamu menjadi marah dengan begitu mudah?




Ketika kita mulai mengembangkan energi perhatian penuh kesadaran, pengertian pertama yang akan kita dapatkan adalah bahwa penyebab utama dari penderitaan kita, kesengsaraan kita, bukanlah orang lain - ia adalah benih kemarahan dalam diri kita sendiri.


Pada saat itu kita akan berhenti menuding orang lain sebagai penyebab semua penderitaan. Kita sadar bahwa dia hanyalah suatu penyebab sekunder. Kamu mendapat banyak kelegaan ketika kamu memiliki pengertian ini, dan kamu mulai merasa lebih baik.




Buddha tidak pernah menasehati kita untuk menekan kemarahan kita, beliau mengajarkan kita untuk kembali ke diri sendiri dan merawatnya dengan baik.


Seperti organ-2 kita, kemarahan kita juga merupakan bagian dari diri kita. Ketika kita marah, kita harus kembali pada diri kita sendiri dan merawat kemarahan kita dengan baik. Kita tidak bisa berkata :" Pergilah kemarahan, kamu harus pergi. Aku tidak menginginkanmu"




Latihan perhatian penuh kesadaran menghasilkan konsentrasi dan pengertian.


Pengertian adalah hasil dari latihan yang bisa membantu kita untuk memaafkan, untuk mencintai.



Nahh teman, tantangan sekarang ada pada diri anda masing-masing. Lihat dan buktikan! :)

-Semoga semua makhluk berbahagia dan damai selalu :)

No comments:

Post a Comment