Tuesday, March 22, 2011

Benefit of Meditation

Being a student in this school of life, I must admit that I still have greed, the feeling of jealous, and other ill thoughts. Yesterday, for example, I still sensed the feeling of jealousy..

Luckily, through the meditation practice, I am able to note the feeling and stop myself from doing bad things.

When I was in silence, I asked this self, "Why do I need to have jealousy? Aren't we only bone, skin, and blood? We are only skeleton that is wrapped inside the skin, isn't it? We are the same.."

Anyway, I must thank the jealousy because this morning I could practice loving-kindness to myself and other beings, growing the feeling of appreciation to have this body as media to realize the nature of things and friends who support my practice :)

To be shared too, I think, this morning I meditated quite well. Although there were some distractions, but I found that I gave only a small force to ask myself to meditate. I found peace every time I breathed in and out. If previously I would say to myself, "Okay, 10 to 15 minutes for meditation is enough", but this morning I said to myself, "You can meditate as long as you wish :)"..

P.S. for "Night Meditation" friends: 
These days, because of tiredness, I switched night meditation to morning time, and I find it to be more comfortable :). I think I will stick to the morning time, but I will not forget to remind you every night. Thank you guys for your tremendous support to each other in our meditation practice. May you find peace, be well, and happy always!

May all beings be well and happy always! :)

Thursday, March 17, 2011

Pass Away?

I just read a clear explanation about "kamma" from Dhamma Musings

In the past, I thought, I need to put kamma as a reason behind every events that happened to me, to every beings. However, through the post created by Bhante Dhammika above, I understand the true meaning of kamma! Not everything depends on kamma, there are other reasons behind.

Now after knowing this, I am going to fix the way I used to think before :)

Ohh yaa and just to be shared with you..

Yesterday during briefing time, my friend said to me that after I leave the place, I am considered pass away. My other friends who heard his statement were angry at him and asked him not to speak something bad! Honestly, after I heard his statement, I had no anger at all, because I am surely going to die one day, so I have no point to argue with him. But a minute later, when I saw my friends scolded him, I began to ask myself, "Am I sure that I am okay with the word PASS AWAY?"

Although I did not scold the person, but the query to myself stuck in my mind for quite sometime. I think he shouted out the word PASS AWAY, because he wants me to stay in the place. For several times, he had asked me to stay in the place, but I cannot help him, I need to move on.

I thought to be able to meet this kind of friend is due to kamma. However after I have a clear understanding about kamma, I can say that kamma is not purely the reason behind it. It was my effort to go there and eventually meet that friend. The kamma, I believe, happens when I started to think, talk, and act towards the person. Kamma is in my hand, and I can determine whether I want to have bad or good kamma :)

To close this post, I would like to write the story that was sent by my beautiful friend last night:

A chief is talking to his tribe about two dogs inside his mind: one is a white dog that is good and courageous, the one is a black dog that is vengeful and angry. Both dogs are fighting to death.

A young brave man unable to wait for the end of the story asks, "Which one will win?"

The chief responds, "The one I feed"

May all beings be well and happy always :)




Monday, March 14, 2011

Bola Api Kemarahan

Bagi saya kemarahan itu seperti bola api yang membara di dalam tubuh ini. Pantas saja ya, Buddha berkata, kemarahan hanyalah membuat dirimu sendiri menderita! Bagai memegang batu bara panas yang akan kita lemparkan pada suatu object, tetapi sebelum kamu melemparnya, kamu hanya akan melukai tanganmu sendiri.

Kemarin baru saja saya merasakan bola api ini lagi, kali ini saya benar-benar melihat nya. Jujur, ketika bola itu pertama kali muncul saya tidak mengetahui nya, object saya lebih tertumpu pada orang yang membuat saya marah. Tapi setelah bola itu terasa semakin membesar, barulah saya sadar.. Lho ini saya marah ya? Dan seketika itu pula bola itu berhenti mengembang, seperti terdiam karena malu terpergok.

Dari hasil buka-buka blog orang, saya baru tahu kalau marah itu sebenarnya adalah salah satu respond "fight or flight" kita sebagai manusia, jadi memang tidak ada yang salah jika kemarahan itu muncul. Namun, kita harus ingat, apa yang penting adalah tindakan kita setelah amarah itu muncul. Apakah kita akan meneruskan amarah ini? Atau melepaskannya dan memaafkan object yang membuat kita marah?

Pagi ini saya menemukan satu artikel tentang "kemarahan" oleh Thich Nhat Hanh. Bagus!
Ada beberapa kalimat yang saya suka dari artikel ini:


Pada saat kamu menjadi marah, kamu cenderung percaya bahwa kesengsaraanmu telah disebabkan oleh orang lain.


Kamu menyalahkan dia atas semua penderitaanmu. Banyak orang lain, yang dihadapkan pada situasi yang sama, tidak akan menjadi marah seperti dirimu. Mereka mendengar kata-2 yang sama, mereka melihat situasi yang sama, namun mereka mampu tetap tenang dan tidak terbawa. Kenapa kamu menjadi marah dengan begitu mudah?




Ketika kita mulai mengembangkan energi perhatian penuh kesadaran, pengertian pertama yang akan kita dapatkan adalah bahwa penyebab utama dari penderitaan kita, kesengsaraan kita, bukanlah orang lain - ia adalah benih kemarahan dalam diri kita sendiri.


Pada saat itu kita akan berhenti menuding orang lain sebagai penyebab semua penderitaan. Kita sadar bahwa dia hanyalah suatu penyebab sekunder. Kamu mendapat banyak kelegaan ketika kamu memiliki pengertian ini, dan kamu mulai merasa lebih baik.




Buddha tidak pernah menasehati kita untuk menekan kemarahan kita, beliau mengajarkan kita untuk kembali ke diri sendiri dan merawatnya dengan baik.


Seperti organ-2 kita, kemarahan kita juga merupakan bagian dari diri kita. Ketika kita marah, kita harus kembali pada diri kita sendiri dan merawat kemarahan kita dengan baik. Kita tidak bisa berkata :" Pergilah kemarahan, kamu harus pergi. Aku tidak menginginkanmu"




Latihan perhatian penuh kesadaran menghasilkan konsentrasi dan pengertian.


Pengertian adalah hasil dari latihan yang bisa membantu kita untuk memaafkan, untuk mencintai.



Nahh teman, tantangan sekarang ada pada diri anda masing-masing. Lihat dan buktikan! :)

-Semoga semua makhluk berbahagia dan damai selalu :)

Thursday, March 10, 2011

Seorang Perempuan

Apakah yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata "perempuan"?


Bagi saya yang merupakan kaum wanita, saya bahagia dan bangga menjadi seorang perempuan! Saya terinspirasi untuk menulis tentang perempuan disini, karena ternyata di dunia luar sana, masihlah banyak perempuan yang masih ditindas! Ada seorang teman laki-laki yang berkata, "Perempuan tidak boleh marah dan membalas ketika suaminya memarahi atau memukulnya." Spontan saja mendengar kalimat ini saya langsung silat lidah. Perempuan juga lah seorang manusia, bukan begitu? Mengapa harus menunduk pada kekasaran laki-laki?

Jujur saja, selama ini saya mengira bahwa emansipasi wanita sudah berjalan dengan mulus di berbagai pelosok dunia. Tapi tak disangka, ternyata saya menemukan sendiri bahwasanya masih ada saja kaum pria yang menganggap wanita tidak memiliki derajat yang sama dengan mereka.

Tambahan kekagetan saya adalah ketika teman laki-laki saya berkata bahwa lelaki itu boleh memiliki banyak perempuan, sedangkan bagi perempuan itu adalah sesuatu yang tabu.

HARH??? Bukannya ketidaksetiaan itu sesuatu yang menyakitkan baik bagi perempuan dan laki-laki? Ada pula ya orang di dunia ini yang masih percaya bahwa lelaki boleh ini dan itu, sedangkan perempuan melakukan ini dan itu adalah tabu.

Well, saya tahu tidak semua lelaki seperti teman saya di atas yang mengagung-agungkan dirinya sebagai seorang lelaki. Hanya pesan saja bagi para kaum pria, hormatilah perempuan, karena tanpa perempuan, dirimu tidak akan ada di dunia ini. Sakit dan bahagia yang kamu rasakan, juga dirasakan oleh kaum wanita, karena kita semua adalah manusia :)

Dan pesan bagi para kaum wanita, walaupun saya mengkritik laki-laki yang menganggap perempuan itu tidak berharga, tapi kita sebagai seorang perempuan juga harus menghormati kaum pria. Hormati mereka karena kita sama-sama manusia dengan akal dan budi! Ketika mereka memukul dan menghina kita sebagai perempuan, mungkin hal terbaik adalah putus hubungan dengan mereka dan mencari perlindungan. 

Saya masih berpegang pada prinsip bahwa orang lain itu susah untuk diubah, yang bisa kita lakukan hanyalah mengubah diri kita sendiri.

Kebetulan juga hari ini mendapatkan artikel berikut:

The Buddha's attitude towards women can be seen when the news of the birth of a daughter was brought to his friend, King Kosala. The King was displeased at the news as he expected a son, but the Buddha, unlike any other religious teacher, paid a glowing tribute to women and mentioned certain characteristics that adorn a woman in the following words:
"Some women are indeed better (than men). Bring her up, O Lord of men. There are women who are wise, virtuous, who have high regard for mothers-in-law, and who are chaste. To such a noble wife may be born a valiant son, a Lord of Realms, who will rule a kingdom."
Semoga bermanfaat :)

Thursday, March 3, 2011

DREAM

I have a dream to be ...

As a kid, I did not have a big dream! I remembered I only wanted to make my parents happy and became a good sister to my siblings :).

As a teenager, I had not have big dreams! But because of riot happened in our country, I remembered I wanted to be rich one day and brought my family to stay outside of our country.

As a pre-university student, I had a dream.. to enter Monash University and study science, because science is always an interesting subject for me. And I love to try something new and different (for me, studying science in English was a very challenging issue since my mother language is not English).

As a university student, I was happy to be able to study in Monash University :). Studying time was an exciting time, but not for the exam time ~ This time I dreamed to work in Malaysia.

As I am sitting and writing this blog NOW, I am asking myself "What actually is my dream?"
I think environment and people around you determine the dreams you are going to have.

In my case, working in Malaysia was a dream of the past. My working pass was rejected by Malaysian government because of salary issue, so I end up landing in Singapore now. Searching job and submitting resume are the main tasks, and these tasks, honestly, sometimes make me to think a lot and doubt about myself. In my part time job, I met a friendly Indonesian woman who is surprisingly, has the same interests with me. What she shared to me about her vision in life has made me to re-consider my future, and shape my dream.

Being someone who is able to educate people..
Being someone who is not that noble, but able to inspire people to act compassionately...
Being someone who can communicate well to others...
And most important, being myself :)


For sure, DREAMS are achievable for everyone! But the way to get them depends on each individual :)